Postingan

85 Tingkatan Wali menurut Kitab Salaf (versi terlengkap)

Gambar
85 Tingkatan Wali menurut Kitab Salaf (versi terlengkap) فَائِدَةٌ فِى تَعْرِيْفِ اْلقُطْبِ أَخْبَرَ الشَّيْخُ الصَّالِحُ اْلوَرَعُ الزَّاهِدُ الْمُحَقِّقُ الْمُدَقِّقُ شَمْسُ الدِّيْنِ بْنُ كَتِيْلَةُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَنَفَعَ بِهِ آمِيْنَ قَالَ : كُنْتُ يَوْمًا جَالِسًا بَيْنَ يَدِي سَيِّدِي فَخَطَرَ بَبًّالِيْ أَنْ أَسْأَلَهُ عَنِ اْلقُطْبِ فَقُلْتُ لَهُ : يَاسَيِّدِي مَا مَعْنَى اْلقُطْبُ ؟ ( Faedah ) mengenai definisi Wali Qutub telah memberitahukan seorang guru yang sholih, wara` , Zuhud, seorang penyelidik, seorang yang teliti yakni Syekh Syamsuddin bin Katilah Rahimahullaahu Ta’ala menceritakan: “ suatu hari Saya sedang duduk di hadapan guruku, lalu terlintas untuk menanyakan tentang Wali Quthub. “Apa makna Quthub itu wahai tuanku?” فَقَالَ لِيْ : اْلأَقْطَابُ كَثِيْرَةٌ ، فَإِنَّ كُلَّ مُقَدَّمِ قَوْمٍ هُوَ قُطْبُهُمْ وَأَمَّا قُطْبُ اْلغَوْثِ اْلفَرْدِ الْجَامِعِ فَهُوَ وَاحِدٌ Lalu beliau menjawab kepadaku, “Quthub itu banyak. Se...

HUKUM MENGHORMAT BENDERA

Gambar
HUKUM MENGHORMAT BENDERA Syekh Athiyah Shaqar, mantan ketua majelis Fatwa Al-Azhar Mesir mengatakan bahwa menghormati bendera diperbolehkan karena bukan ibadah. فتحية العلم بالنشيد أو الإشارة باليد في وضع معين إشعار بالولاء للوطن والالتفاف حول قيادته والحرص على حمايته، وذلك لا يدخل فى مفهوم العبادة له، فليس فيها صلاة ولا ذكر حتى يقال : إنها بدعة أو تقرب إلى غير الله "Menghormati bendera dengan lagu atau isyarat tangan dalam situasi tertentu itu menunjukkan kesetiaan pada tanah air, berkumpul di bawah kepemimpinannya , dan komitmen untuk mendukungnya. Sikap itu tidak masuk dalam pengertian ibadah kepada bendera itu. Penghormatan bendera bukanlah shalat atau dzikir sampai ada yang bilang itu bid’ah atau ibadah pada selain Allah." Abdurrahman Syaiban –ketua Majelis Ulama Al-Jazair (جمعية العلماء المسلمين الجزائريين) tahun 1999-2001 — mengatakan bahwa berdiri saat dinyanyikan lagu kebangsaan atau menghormati bendera tidak bertentangan dengan syariah da...

Amalan Penolak Mahabbah/Sihir

Gambar
Amalan Penolak Mahabbah/Sihir Cara ini satu dari sekian banyak ikhtiar dalam rangka membentengi diri dari pengaruh negatif. Hal lain yang sangat penting, Patuh dan taat terhadap semua perintah Allah SWT,baik perintah mengerjakan atau perintah meninggalkan. Kemudian berlaku dan bersikap layaknya seorang muslim/mah dalam kehidupan sehari-hari serta hindari membuat sakit hati terhadap lawan jenis khususnya, makhluq pada umumnya. بِسْمِ اللهِ الَّرحْمنِ الرَّحِيْمِ فلما ألقوا قال موسى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ اِنَّ اللهَ سَيٌبْطِلُهُ اِنَّ اللهَ لاَ يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِيْنَ . فَوَقَعَ الْحَقّ ُوَبَطَلَ مَا كَانْوا يَعْمَلُوْنَ . فَغُلِبُوْا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوْا صَاغِِرِيْنَ . وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلٌ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا . وَنُنَزِلُ مِنَ اْلقُرْأنِ مَا هُوَ شِفآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمٌؤْمِنِيْ نَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ اِلّاَ خَسَارًا Cara : - Akan lebih baik jika dibarengi puasa sunah 7 hari ,dan dimulai pada hari la...

ISTI'ADZAH

ISTI'ADZAH (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk) أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّـيْطَانِ الرَّجِيْمِ تَفْسِيْرُ اْلاِسْتِعَاذَ ةِ : اَلمَْعْنَى : أَسْتــَجِيْرُ بِجِِنَابِ اللهِ ، وَ أَعْتــَصِمُ بِهِ مِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ اْلعَاتِيِّ اْلمُتــَمَرِّد ِ ، أَنْ يَضُرَّ نِي فِى دِيْنِى أَوْ دُ نْيَاىَ ، أَوْ يَصُدَّ نِى عَنْ فِعْلٍ مَا أُمِرْتُ بِهِ ، وَ أَحْتــَمِى بِا لْخَالِقِ السَّمِيعِ اْلعَلِيْمِ مِنْ هَمْزِ هِ وَ لَمْزِ هِ وَ وَسَاوِسِهِ ، فَإِنَّ الشَّـيْطَانَ لاَ يَكُفُّهُ عَنِ اْلإِ نْسَانِ ، إِلاَّ اللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. عَنِ النَّـبِىِّ أَ نَّهُ كَانَ إِذَ ا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ ، اِسْتــَفْتــَح َ صَلاَ تَهُ بِالتـــَّـكْبِ يْرِ ، ثــُمَّ يَقُوْ لُ : )أَعُوْذُ بِا اللهِ السَّمِيْعِ اْلعَلِيْمِ ، مِنَ الشَّـيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، مِنْ هَمْزِ هِ وَ نَفْخِهِ وَ نَفْثِهِ . (أخرجه أصحاب السنن). Tafsir (Penjelasan) Al-Isti'adzah, maknanya : Aku berlin...

Hubungan Pancasila dan Islam

Gambar
  Hubungan Pancasila dan Islam; Keputusan Final Munas NU di Situbondo Padhang-mbulan.org~ Belakangan ini mencuat lagi upaya pembenturan antara Pancasila sebagai falsafah negara dengan Islam sebagai agama. Maka perlu kita pahami, khususnya bagi kalangan Nahdliyin, bahwa hubungan itu sudah final dan tidak boleh dipertentangkan lagi. Karena jauh hari Nahdlatul Ulama lewat Muktamarnya di Situbondo tahun 1983 telah merumuskannya sebagaimana berikut: PANCASILA: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Deklarasi: Tentang hubungan Pancasila dengan Islam; 1. Pancasila sebagai dasar falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat mnggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama. 2. Sila ...

AKHLAQ YANG MULIA

HR Imam At Tirmidzi حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ وَاقِدٍ عَنْ زَرْبِيٍّ قَال سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ جَاءَ شَيْخٌ يُرِيدُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَبْطَأَ الْقَوْمُ عَنْهُ أَنْ يُوَسِّعُوا لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي أُمَامَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَزَرْبِيٌّ لَهُ أَحَادِيثُ مَنَاكِيرُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَغَيْرِهِ  Terjemahan Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Marzuq Al Bashari], telah menceritakan kepada kami [Ubaid bin Waqid] dari [Zabri] ia berkata, saya mendengar [Anas bin Malik] berkata; Seorang lelaki tua datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lantas orang-orang memperlambat untuk memperluas jalan untuknya, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa...

Ku Sandarkan ASA-ku padaMU ya Robb

Gambar
Terjemah surat asy-syu'aro 78-82 {الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80) وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (81) وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ (82) } (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” {الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ} (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku. (Asy-Syu'ara': 78) Yaitu Dialah Yang Menciptakan, Yang telah menentukan ukuran dan memberi petunjuk semua makhluk kepada-Nya. Maka tiap-tiap makhluk diciptakan berjalan menurut apa yang telah ditakdirkan baginya; Dialah Yang memberi petunjuk siapa yang ...